Kapolda Sumut Irjen Pol R.Z. Panca Putra Simanjuntak dalam gelar perkara kasus kapal karam angkut PMI ilegal (Foto: Polda Sumut)
Nani Suherni

MEDAN, iNews.id - Polda Sumatra Utara (Sumut) menggelar perkara kasus kapal angkut pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal karam di Asahan. Kapolda Sumut  Irjen Pol R.Z. Panca Putra Simanjuntak menegaskan, lima orang terancam 10 tahun penjara.

"PMI ilegal itu berjumlah 84 orang, dan saat ini masih ditahan di Mapolda Sumut setelah diselamatkan nelayan dari kapal karam yang mereka tumpangi," ujarnya, dikutip dari portal resmi Polda Sumut, Kamis (24/03/22).

Panca menggatakan, pekerja migran itu mengaku membayar sebesar Rp 4,8 juta hingga Rp 6 juta kepada agen untuk memberangkatkan mereka secara ilegal ke Malaysia. Kapal tersebut sebelumnya mengangkut 86 orang PMI yang berasal dari NTB, NTT, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Lampung, Jambi dan Sumatera Utara, dengan satu nakhoda dan empat anak buah kapal (ABK).

"Direncanakan PMI tersebut berangkat Kamis (17/03/22) dari perairan Tanjungbalai, namun batal karena air laut surut. Mereka kemudian diberangkatkan pada malam esok harinya ke Malaysia," ucapnya.

Dia mengatakan, saat tiba di perbatasan Malaysia hari masih pagi, sehingga nakhoda khawatir ditangkap dan menunggu di perairan Tanjung Api hingga malam hari.

"Saat malam itu kapal PMI karam dan mereka menyelamatkan diri masing-masing dengan cara berenang dan mengapung di fiber. Kapal nelayan datang menyelamatkan PMI itu, namun dua orang tenggelam dan meninggal dunia," katanya.

Dua PMI yang meninggal dunia itu berasal dari NTT dan Sulawesi Selatan. Jenazah PMI berasal dari Sulawesi Selatan sudah dipulangkan, sedangkan dari NTT masih menunggu proses

Panca menambahkan, terkait kasus PMI tersebut pihaknya masih mengejar tiga orang tersangka yakni R (mengorganisir sekaligus pemilik rumah penampungan), ST (koordinator) dan SF (pemilik kapal). Sedangkan lima orang ditahan yaitu H (nakhoda), RD (anak buah kapal), S (mekanik), R (juru masak), dan RR (penampung).

"Kelima orang itu terancam hukuman 10 tahun penjara," ujarnya.


Editor : Nani Suherni

BERITA TERKAIT