Diduga Jadi Korban Salah Tangkap, Remaja Diancam Jaksa 9 Tahun Penjara

Eka Hetriansyah ยท Selasa, 07 November 2017 - 11:26:00 WIB
Diduga Jadi Korban Salah Tangkap, Remaja Diancam Jaksa 9 Tahun Penjara
Pengadilan negeri Medan. (Foto: iNews.id/Eka Hetriansyah).

MEDAN, iNews.id - Eko Syahputra, seorang remaja berusia 17 tahun, warga Jalan Gaperta Ujung, Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara. Diduga menjadi korban salah tangkap oleh pihak kepolisian, dengan kasus penjambretan terhadap seorang ibu, di Jalan S Parman, Kota Medan.

Hal ini ditandai dengan tidak adanya bukti-bukti, sesuai dengan ciri-ciri pelaku penjambretan yang diungkapkan oleh korban.

Menurut Rafiah, yang menjadi korban penjambretan, ciri-ciri terdakwa dengan pelaku yang saat itu menjambretnya sangat berbeda jauh dari ciri-ciri fisiknya.

Penasehat hukum terdakwa, Tuseno mengatakan bahwa penangkapan yang terjadi terhadap terdakwa Eko Syahputra, merupakan kesalahan dari pihak kepolisian. Namun Eko tetap dijerat dengan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan, ancaman maksimal 9 tahun penjara.

Menurutnya, meski hanya mengandalkan bukti berdasarkan pengakuan terdakwa tanpa ada bukti-bukti lainnya, namun jaksa tetap ngotot untuk menjerat hukum Eko.

“Jaksa masih ngotot untuk menjerat Eko, karena bagaimanapun juga dakwaan jaksa kan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Namun buktinya hanya sebatas pengakuan Eko selaku terdakwa. Polisi yang melakukan penangkapanpun hanya berdasarkan keterangan Eko,” ujar kuasa hukum terdakwa, Tuseno.

Dia juga menjelaskan Eko sempat disiksa saat ditangkap sehingga trauma. “Sementara kita tahu pada saat melakukan penangkapan Eko disiksa. Memang pada saat pemeriksaan di polisi tidak ada kekerasan, namun ada trauma pada saat ditangkap sehingga dia takut, apa yang ditanyakan kepolisian dia jawab,” jelasnya.

Dia juga menyayangkan pihak kepolisian yang melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa, tidak hadir saat dipanggil untuk melakukan persidangan. Padahal korban telah mencabut keterangan di persidangan karena Eko bukanlah orang yang diduga menjabret barangnya.

”Kepolisian yang melakukan pemeriksaan kepada si korban, korban mengakui bahwa terdakwa  inilah yang melakukan, cuma kan dipersidangan keterangannya dicabut. Sehingga kepolisian yang memeriksa si korban dipanggil, namun pada saat persidangan ini si polisi selaku pemeriksa korban tidak datang dengan alasan sudah dipindahkan, padahal hakim sudah meminta untuk datang,” katanya.

Dia juga nambahkan bahwa persidangan kali ini terkesan dipaksakan, dan remaja yang menjadi terdakwa tetap terus dipojokkan, sedangkan korban telah mencabut tuntutannya.

Editor : Kurnia Illahi

Bagikan Artikel: