Polisi Selidiki Pembunuhan Siswi dalam Toilet Rumahnya di Deliserdang
DELISERDANG, iNews.id – Polrestabes Medan bersama Polsek Percut Sei Tuan bergerak cepat untuk mengungkap kasus dugaan perampokan dan pembunuhan siswi SMA 11 Medan, Anggi Sapitri Tanjung (16) di rumahnya. Polisi mendata dan mengumpulkan saksi yang memiliki informasi sekecil apapun mengenai peristiwa tersebut.
“Korban tewas karena dibunuh. Kami temukan sejumlah luka-luka di tubuh korban. Luka tusuk benda tajam di perut, luka lecet di punggung dan di bagian belakang kepala belakang,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Medan AKBP Putu Yudha Prawira, Sabtu (20/1/2018) dini hari.
Dia mengatakan, dugaan sementara motif pembunuhan diawali dengan perampokan di rumah korban. Hal ini mengacu dengan hilangnya telepon seluler milik korban dan beberapa peralatan elektronik dalam rumah.
Hasil penyidikan dan olah tempat kejadian perkara (TKP) petugas menemukan sebilah pisau dapur yang masih terdapat bekas darah. Polisi menduga, korban sempat berupaya melawan saat pelaku melakukan penganiayaan dengan menggunakan barang tajam jenis pisau.
“TKP pembunuhan ini berawal dari bagian dapur, karena kami temukan tetesan darah dan barang bukti pisau yang digunakan pelaku,” kata Prawira.
Jenazah korban saat ini masih berada di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara untuk mengetahui penyebab kematian korban. seusai autopsi, jenazah akan disemayamkan di rumah keluarganya di Kelurahan Bandar Selamat, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut).
Diketahui, penemuan mayat seorang siswi SMA kelas XI dalam toilet rumahnya menggegerkan ratusan warga Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang, Sumut, Jumat (19/1/2018) malam. Keluarga menemukan Anggi Sapitri Tanjung dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Tubuh korban bersimbah darah dengan posisi kepala terendam bak mandi dan mulut dibekap kain. Ada dua luka tusukan benda tajam di bagian dada dan perut, serta luka sayatan di leher.
Ibu korban menangis histeris dan pingsan beberapa kali lantaran tak kuasa menahan kesedihan melihat anak keduanya meninggal dengan cara yang tidak wajar. Dia terus-menerus menangisi dan memanggil-manggil nama putrinya yang diduga menjadi korban penganiayaan dan pembunuhan tersebut.
Editor: Donald Karouw