Polisi Tangkap Pelaku Penyobekan Alquran di Medan, Motif Masih Diselidiki

Stepanus Purba ยท Kamis, 13 Februari 2020 - 18:21 WIB
Polisi Tangkap Pelaku Penyobekan Alquran di Medan, Motif Masih Diselidiki
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jhonny Edison Isir saat pimpin ekspose kasus penyobekan Alquran. (Foto: Istimewa)

MEDAN, iNews.id – Polisi menangkap pelaku penyobekan Alquran di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut). Pelaku diamankan petugas gabungan Polsek Medan Kota dan Polrestabes Medan setelah kurang lebih dua pekan penyelidikan pada Kamis (13/2/2020)

Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jhonny Edison Isir mengatakan, identitas pelaku yakni berinisial DIM (24). Dia ditangkap saat hendak melakukan perbuatan serupa untuk kedua kalinya di Mesjid Raya Al Mashun, Kamis (13/2/2020) pukul 06.10 WIB.

"Jadi berdasarkan penyelidikan hasil rekaman CCTV di sekitar lokasi, perbuatan pelaku ini pertama kali dilakukannya pada Jumat (31/1) lalu. Modusnya masuk ke dalam masjid dan mengambil Alquran dalam lemari, lalu membawanya ke toilet," ujar Isir, saat ekspose di Mapolrestabes Medan, Kamis (13/2/2020).

Dia menjelaskan, saat dalam toilet, pelaku menyobek salah satu lembaran Alquran menjadi empat potong. Dia kemudian memasukkan robekan itu ke dalam kantong plastik dan membuangnya di trotoar depan masjid hingga berserakan di Jalan Sisingamangaraja.

"Aksi pelaku ini terekam CCTV saat berjalan di areal masjid menuju ruas jalan raya. Kemudian membuang kantong plastik berisi robekan Alquran. Robekan ini ditemukan warga hingga memicu kehebohan dan diselidiki polisi bersama BKM Mesjid," katanya.

Menurutnya, saat ini penyidik masih mendalami lebih jauh motif aksi penistaan agama yang dilakukan pelaku. Diduga ada hal terstruktur dan melibatkan pihak lain dalam kejadian ini.

"Ini yang masih terus kami selidiki, apakah ada pihak lain yang terlibat dibalik aksi pelaku dengan tujuan tertentu. Kami menduga ada yang ingin berusaha merusak kondusivitas Kota Medan melalui isu konflik SARA," ucapnya.

Kapolrestabes mengimbau, masyarakat khususnya umat Muslim agar tidak terpancing emosi dengan adanya kejadian tersebut. Penyidik akan terus mendalami sekaligus memproses hukum pelaku yang telah diamankan.

"Kami menjerat pelaku dengan Pasal 156 KUHP tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. Kami imbau warga tidak terpengaruh dengan isu beraroma SARA seperti ini,” kata Isir.


Editor : Donald Karouw