Tim Gabungan Lantamal Amankan Kapal Angkut Pakaian Bekas Ilegal di Asahan

Riezky Maulana ยท Senin, 13 Juli 2020 - 17:00:00 WIB
Tim Gabungan Lantamal Amankan Kapal Angkut Pakaian Bekas Ilegal di Asahan
Danlantamal Sidak Kapal AL Pulau Karakelang II-8-3 untuk mengetahui keadaan Kapal (Foto : iNews.id/Arther)

JAKARTA, iNews.id - Tim gabungan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) Tanjung Balai Asahan I, Sumatera Utara (Sumut) mengamankan kapal kayu KM Doa Ibu yang mengangkut 300 karung pakaian bekas di sekitar Sungai Baru Kabupaten Asahan, Senin (13/7/2020).

Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Tanjung Balai Asahan, Letkol Laut Dafris mengatakan, kegiatan tersebut berawal aduan daripada masyarakat yang sedang melakukan bongkar muat belasan balpres pakaian bekas diduga dari langsiran kapal kecil di Sei Baru, Asahan.

"Dari temuan tersebut dilakukan Patroli Gabungan Tim F1QR Lanal TBA, Bea Cukai dan Polair Kota Tanjung Balai yang kemudian menemukan 1 unit kapal kayu dalam keadaan kandas di sekitar Perairan Sei Baru pada Sabtu dini hari. Saat itu, Tim Patroli Gabungan memutuskan untuk memeriksa kapal kandas kandas tersebut," kata Dafris dilihat dari laman resmi TNI, Senin (13/7/2020). 

Dia menuturkan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Tim patroli gabungan, didapati kapal bernama sudah dalam keadaan kosong tanpa awak.

Menurut Dafris, para awak telah melarikan diri sebelum petugas datang. 

"Pemeriksaan lanjutan tidak berhasil menemukan dokumen atau surat keterangan apa pun terkait kapal maupun muatan yang diperkirakan mencapai 300 bal," paparnya.

Danlanal menjelaskan, modus yang digunakan para pelaku adalah balpres diangkut dari negera tetangga. Kemudian kapal berusaha melewati lautan lepas guna menghindari patroli petugas dengan situasi alam yang ekstrim dan kemudian mereka akan melangsir menggunakan kapal-kapal kecil.

"TNI AL, khususnya Lanal Tanjung Balai Asahan Lantamal I saat ini sedang gencar melakukan patroli baik tersendiri maupun secara gabungan. Lanal Tanjung Balai Asahan selalu berupaya mencegah masuknya penyelundupan yang berusaha memasukan tenaga kerja ilegal, komoditi bahkan narkoba," tuturnya.

Untuk diketahui, Balpress merupakan pakaian ketinggalan mode atau bekas dengan satuan satu balpres sama dengan 100 kilogram dan biasanya berisi 200-300 pasang pakaian.

Balpres merupakan produk yang dilarang impornya berdasarkan keputusan Menteri Perdagangan (Mendag), karena mengganggu industri tekstil dan konveksi dalam negeri.


Editor : Kastolani Marzuki