Tuan Rondahaim Saragih, Raja Ke-14 Kerajaan Raya Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Stepanus Purba · Kamis, 28 Mei 2020 - 12:09 WIB
Tuan Rondahaim Saragih, Raja Ke-14 Kerajaan Raya Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Sekdaprov Sumut R Sabrina. (Foto: Humas Pemprov Sumut)

MEDAN, iNews.id - Tuan Rondahaim Saragih, Raja Ke-14 Kerajaan Raya diusulkan Jadi Pahlawan Nasional. Dia dinilai telah berperan dalam memimpin dan melakukan perjuangan mempertahankan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Usulan tersebut disepakati dalam Rapat Pembahasan Usulan Pemberian Gelar Pahlawan Nasional kepada Tuan Rondahaim Saragih di Ruang Rapat Kaharuddin Nasution, Kantor Gubernur Sumatera Utara (Sumtu) di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Rabu (27/5/2020).

“Pada prinsipnya tentu kami semua setuju Tuan Rondahaim Saragih diusulkan menjadi salah satu pahlawan nasional dari Sumut. Bahkan bila perlu, lebih banyak lagi tokoh yang kami usulkan untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional karena hal ini menjadi kebanggaan bagi kita semua,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut R Sabrina.

Namun menurutnya, usulan tersebut harus dibuat dengan sebaik mungkin sehingga benar-benar dapat memenuhi kriteria dan syarat yang telah ditetapkan untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Apalagi mengingat ini merupakan usulan yang ketiga kalinya, jadi harus dipersiapkan secara matang.

“Ini merupakan kesempatan terakhir. Karena itu saya minta tim pengusul untuk menyempurnakan lagi usulan ini. Berbagai saran dan masukan dalam rapat ini harus diakomodir dalam usulan nanti, terutama tentang syarat dan kriteria, harus dipastikan sudah sesuai dengan yang ditetapkan,” kata Sabrina yang juga Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Sumut.

Senada juga disampaikan Sejarawan USU Suprayitno. Menurutnya masih banyak yang harus disempurnakan dalam usulan yang akan disampaikan ke Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), seperti tentang bukti-bukti sejarah berupa arsip yang mendukung.

“Saya bangga dengan sosok Tuan Rondahaim Saragih. Namun tim pengusul harus bekerja lebih ekstra lagi untuk mengumpulkan bukti-bukti sejarah dan arsip yang mendukung agar usulan kali ini dapat disetujui TP2GP dan Tuan Rondahaim Saragih dapat ditetapkan menjadi salah satu pahlawan nasional asal Sumut,” ujar Suprayitno yang juga Anggota TP2GD Sumut.

Sejarawan UNIMED Ichwan Azhari sebagai Anggota TP2GD Sumut juga mengharapkan hal yang sama. Selain segera memperbaiki usulan, tim pengusul juga diharapkan mempersiapkan diri menerima kedatangan TP2GP ke Sumut.

“Tim harus dapat menjelaskan dan menjawab berbagai hal yang menjadi pertanyaan tim dari Jakarta serta menyiapkan berbagai bukti pendukung sehingga mereka yakin Tuan Rondahaim Saragih dapat ditetapkan menjadi pahlawan nasional,” kata Ichwan.

Sementara itu, Anggota Tim Pengusul FIB USU Medan Hisarma Saragih menyampaikan akan segera memperbaiki usulan yang akan disampaikan ke TP2GP.

“Secepatnya akan kami lengkapi lagi usulan ini, sesuai dengan saran dan masukan yang disampaikan dalam rapat,” ucapnya.

Sebelumnya dalam paparan, Hisarma menyampaikan Tuan Rondahaim Saragih Garingging atau Tuan Rondahaim merupakan sosok pejuang asal Kerajaan Raya, Simalungun, Sumatera Utara (dahulu Pantai Timur Sumatera). Masa perjuangannya terentang dari 1880 - 1891.

Awal keterlibatannya dalam perang melawan kolonialisme Belanda ketika mengetahui pemerintah Belanda membuka perkebunan secara sepihak di wilayah yang dihuni orang Simalungun. Berbagai tindak kejahatan seperti pemerkosaan, perampokan dan penyiksaan dialami orang Simalungun.

Sepanjang tahun 1874 hingga 1878, Tuan Rondahaim sudah mulai mendengar kabar ini. Tuan Rondahaim telah mengetahui pasukan Belanda terdiri atas pasukan yang kuat dengan dukungan persenjataan modern. Untuk itu dia terlebih dahulu mempersiapkan pasukan untuk digembleng dalam pelatihan-pelatihan militer menyongsong pertempuran.

“Dia mendatangkan guru-guru perang dari Tanah Gayo, Alasa dan Aceh ke Raya untuk mendidik pasukannya. Beberapa tokoh pejuang rakyat lain, seperti Tengku Muhammad dari Aceh dan Si Singamangaraja ke-XII dari Bakkara didatangkan ke Dalig Raya untuk membahas strategi perang semesta menghadapi Belanda. Ia juga membangun komunikasi dengan Kesultanan Lima Laras (Batubara) untuk meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan,” kata Hisarma.

Tuan Rondahaim pun memimpin pasukan Panei, Siantar, Silou dan Padang melawan Belanda. Membangun jejaring dengan Kerajaan Padang, Asahan, Batubara, Bajalinggei untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda yang telah menguasai pesisir Sumatera Timur.

“Ketatnya pertahanan yang digalang Tuan Rondahaim serta tangguhnya pasukan Raya, membuat Belanda memutuskan untuk mengundurkan diri dari usaha menundukkan raja-raja Simalungun. Tuan Rondahaim berhasil mengamankan wilayah sampai dengan akhir hayatnya. Pada tahun 1891, dia tutup usia dan dimakamkan di Raya,” katanya.

Melihat perjuangan Tuan Rondahaim yang mempunyai skala yang luas serta kesungguhan membela bangsanya, sepertinya patut dikenang dan diberi suatu apresiasi yang tinggi oleh pemerintah dan masyarakat negeri ini.

“Gelar pahlawan nasional dari Pemerintah Indonesia epantasnya bagi sosok yang memiliki jasa besar bagi masyarakatnya,” ucap Hisarma.


Editor : Donald Karouw