MEDAN, iNews.id – Sejarah Masjid Raya Al Mashun, Kota Medan, menarik diulas. Masjid yang telah berusia lebih dari satu abad atau 100 tahun ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Islam, tetapi juga saksi bisu kebesaran Kesultanan Melayu Deli yang masih terjaga keasliannya.
Terletak di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, kemegahan arsitektur masjid ini sanggup memukau siapa saja yang memandangnya.
Dirancang arsitek asal Belanda, Masjid Raya Al Mashun memiliki keunikan yang jarang ditemukan pada bangunan lain. Arsitekturnya merupakan perpaduan harmonis antara corak Melayu, Arab, India, dan Spanyol.
Keunikan ini terlihat jelas dari bentuk bangunan yang bersegi delapan (oktagon) dengan pilar utama yang sudah menggunakan teknologi beton di zamannya. Sentuhan gaya klasik Eropa tampak pada jendela kaca patri yang indah, sementara kubah masjid mengadopsi gaya Moghul dari India.
"Nilai estetika dan etika yang tinggi pada masjid ini terpancar dari ornamen yang menghiasi sisi dalam dan luar gedung. Motifnya beragam, mulai dari flora, fauna, hingga kaligrafi yang sangat detail," ujar Syafrizal, perwakilan BKM Masjid Raya Al Mashun Medan, Minggu (22/2/2026).
Proses Pembangunan
Sejarah mencatat, pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1906 dan rampung pada 1909 di masa kepemimpinan Sultan Ma’mun Al Rasyid. Biaya pembangunannya saat itu tergolong fantastis, yakni mencapai sekitar 1 juta Gulden.
Hingga saat ini, masjid yang mampu menampung hingga 2.000 jamaah tersebut tetap dipertahankan bentuk aslinya. Karena nilai sejarah dan arsitekturnya yang tak ternilai, Masjid Raya Al Mashun telah ditetapkan sebagai warisan Cagar Budaya.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait