Ilustrasi Rumah Adat Batak (Foto: Pixabay)
Reza Rizki Saputra

JAKARTA, iNews.id - Suku Batak di Sumatera Utara merupakan salah satu etnik terbesar yang ada di Indonesia sesuai data sensus penduduk tahun 2010. Suku Batak tersebar hampir diseluruh wilayah provinsi Sumatera Utara. 

Mengutip buku Suku-suku Bangsa di Sumatera karya Giyanto, nenek moyang Suku Batak merupakan kelompok Proto Melayu atau Melayu Tua. Kelompok ini berasal dari Asia Selatan kemudian bermigrasi ke Nusantara melalui Pulau Sumatera. Lalu dari semenanjung Malaya, mereka menyeberang ke Pulau Sumatera dan pada akhirnya menetap di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara.

Kelompok Proto Melayu kemudian membangun sebuah permukiman di Sianjur Mula-mula. Pemukiman tersebut berkembang lalu kemudian menyebar ke wilayah sekitarnya. 

"Ada beberapa versi tentang nenek moyang suku bangsa Batak. Salah satu versi menyebutkan bahwa nenek moyang suku bangsa Batak adalah si Raja Batak," tulis Giyanto. 

Menurut buku Tarombo Borbor Marsada yang dikutip Giyanto, Raja Batak memiliki tiga orang putra. Ketiga putranya yaitu Guru Tatea Bulan (siRaja Lontung), Raja Isombaon (siRaja Sumba), dan Toga Laut. Ketiga anak itu lah yang menjadi awal mula marga di suku Batak.

Berikut rangkuman soal Suku Batak di Sumatera Utara;

Sub Suku Batak

Berdasarkan pendapat Giyanto, Suku Batak memiliki sebelas sub suku yang tercatat. Sub suku tersebut yaitu Batak Karo, Batak Toba, Batak Papa, Batak Simalungun, Batak Angkola, Batak Mandailing, Batak Dairi, Batak Nias, Batak Alas, Batak Gayo, dan Batak Kluet.

"Dari sub suku bangsa tersebut ,ada lima sub suku bangsa yang menjadi sub etnis utama Batak, yaitu Toba, Pakpak, Simalungun, Karo, dan Mandailing," tulis Giyanto. 

Sub suku lainnya diketahui memisahkan diri dan membentuk identitas baru menjadi suku berbeda. Sebagian besar dari Suku Batak masih tinggal di sekitar Danau Toba. 

Menurut Giyanto, Suku Batak hidup secara berkelompok dalam satu kampung yang disebut huta atau kuta yang merupakan bahasa Karo. Setiap huta biasanya ditempati oleh beberapa keluarga yang masih memiliki ikatan kekerabatan.

Suku Batak di Nusantara

Etnis Batak merupakan gabungan dari beberapa suku yang ada di Sumatera Utara. Identitas masyarakat asli setempat sebagai Suku Batak baru dikenal setelah tahun 1926, yaitu dengan dibentuknya organisasi bernama Jong Batak. Organisasi ini kumpulan para pemuda asal Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Angkola, dan Pakpak. Jong Batak dibentuk tanpa membeda-bedakan agama yang dianut oleh anggotanya.

Masyarakat Sumatera Utara pada saat itu belum merasa perlu untuk terikat secara kelompok yang lebih besar. Banyak orang berpendapat bahwa pendudukan kolonial Belanda di Indonesia merupakan salah satu alasan yang membuat masyarakat Sumatera Utara lebih memiliki rasa dan keinginan untuk bersatu.

Oleh karena itu, sangat menakjubkan bahwa hingga saat ini Suku Batak dikenal sebagai salah satu etnis bangsa yang ada di Indonesia yang memiliki jalinan ikatan yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya.

Kepercayaan Suku Batak

Hingga saat ini, mayoritas kepercayaan masyarakat Suku Batak yakni Kristen Protestan. Akan tetapi jauh sebelumnya, mereka memiliki sistem kepercayaan dan religi terhadap Mulajadi na Bolon yang mempunyai kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaannya terwujud dalam Debata Natolu.

Bahasa Suku Batak

Suku Batak di Sumatera Utara menggunakan bahasa Batak untuk berkomunikasi dalam kegiatan sehari-hari. Setiap sub etnis memiliki logat atau dialek dengan ciri khas yang berbeda dalam mengucapkan Bahasa Batak.

Mengutip Warisan Leluhur karya Uli Kozok, ahli bahasa membedakan Bahasa Batak ke dalam dua golongan. Perbedaan dari kedua golongan tersebut terlalu besar, sehingga kemungkinan adanya komunikasi antara kedua kelompok bahasa tersebut cukup sulit. Batak Angkola, Mandailingi, dan Toba membentuk rumpun selatan. Sedangkan Batak Karo dan Pakpak-Dairi termasuk ke dalam rumpun utara.

Batak Simalungun sering digolongkan ke dalam rumpun ketiga yang berada di antara utara dan selatan. Namun menurut ahli bahasa Adelaar, dialek Simalungun sebenarnya berasal dari rumpun selatan. 

"Semua bahasa Batak berasal dari satu bahasa purba (proto language) yang sebagian kosa katanya dapat direkonstruksi," tulis Kozok dalam buku tersebut.


Editor : Nani Suherni

BERITA TERKAIT