Demi Menuntut Ilmu, Puluhan Siswa SD Bertaruh Nyawa Menuju Sekolah

Wahyu Rustandi ยท Kamis, 22 Maret 2018 - 18:49:00 WIB
Demi Menuntut Ilmu, Puluhan Siswa SD Bertaruh Nyawa Menuju Sekolah
Jauhnya akses jalan yang menghubungkan kampung dengan sekolah, memaksa para siswa menyeberangi Sungai Buaya yang lebarnya lebih dari 70 meter. (Foto: iNews.id/Wahyu Rustandi)

SERDANGBEDAGAI, iNews.id - Lebih dari 20 siswa Sekolah Dasar Negara (SDN) No 101976 Desa Bandarkuala, Kecamatan Galang, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut) harus bertaruh nyawa setiap hari untuk berangkat dan pulang sekolah. Mengingat mereka harus menyeberangi Sungai Buaya menuju sekolah.

Puluhan siswa SD itu merupakan warga Dusun Manggis, Desa Buntubulat, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Serdangbedagai. Jauhnya akses jalan yang menghubungkan kampung dengan sekolah, memaksa para siswa menyeberangi Sungai Buaya yang lebarnya lebih dari 70 meter.

Menyeberangi Sungai Buaya dipilih para siswa sebagai solusi agar dapat sampai di sekolah tepat waktu dengan durasi waktu dan jarak tempuh yang lebih sedikit. Parahnya jalur darat juga sulit ditempuh bagi para siswa SD karena jalanan yang rusak. Perjuangan belum sampai di situ, mereka masih harus melewati perkebunan sawit milik sebuah perusahaan swasta.


Diketahui, setiap hari para siswa SD itu menggunakan rakit bambu yang dibuat oleh masyarakat sekitar. Mendekati bibir sungai, para siswa tersbeut harus melepas sepatu, menggulung celana hingga mengangkat tinggi-tinggi tas agar tidak basah.

Namun, nyatanya mereka tetap kebasahan begitu sampai di sekolah hingga saat di dalam kelas saat proses belajar mengajar berlangsung. Bahkan tak jarang dan telah menjadi pemandangan yang biasa bagi siswa lain melihat bocah-bocah asal Buntubulat dengan pakaian dan sepatu yang basah.

Walaupun memiliki keberanian untuk menyeberangi sungai, tak jarang para siswa harus absen dan libur sekolah saat permukaan sungai pasang atau banjir. Para siswa yang masih terlalu kecil itu terpaksa melakukan hal tersebut demi sebuah harapan dan cita-cita sebagai seorang yang terpelajar di masa yang akan datang.

"Tinggal di Buntubulat. Kelas enam. Kalau sekolah naik rakit dan sering ketinggalan rakit. Kalau banjir kadang pergi sekolah kadang tidak," ucap salah seorang siswa Jumhana Purba, Kamis (22/3/2018).

Siswa tersebut memilih pulang dengan mengarungi sungai tanpa menggunakan rakit. Alhasil seragam dan tubuh siswa SD itu terendam hingga sedada. Bahkan tidak jarang para bocah tersebut bekerja sama mengayuh rakit tanpa satu orang dewasa sekalipun saat berangkat sekolah. "Kalau pulang baru ngarung. Terkadang mengayuh sendiri rakit karena orang dewasa tidak ada," katanya.


Saat ini para siswa SD itu dan masyarakat sekitar berharap agar pihak berwenang dapat membangun jembatan penghubung. Harapan tersbeut semata-mata agar para generasi bangsa itu dapat berangkat ke sekolah dengan mudah dan aman. Setidaknya, pembangunan jembatan dapat dimanfaatkan warga untuk mengangkut hasil pertanian dan kepentingan lain.

Editor : Achmad Syukron Fadillah