Kisah Jenderal Hoegeng Perintahkan Kuli Buang Piano Mahal dari Bandar Judi di Medan

Sindonews, Dominique Hilvy Febriani · Rabu, 30 Maret 2022 - 10:25:00 WIB
Kisah Jenderal Hoegeng Perintahkan Kuli Buang Piano Mahal dari Bandar Judi di Medan
Kapolri periode 1968-1971 Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso menolak tawaran menjadi Duta Besar. (Foto IG Jenderal Hoegeng Iman Santoso).

JAKARTA, iNews.id -  Jenderal Hoegeng dikenal sebagai sosok yang bersih dan tegas menolak suap. Bahkan, Hoegeng sempat membuang piano mahal dari bandar judi di Medan

Diketahui, Hoegeng, memimpin Kepolisian Republik Indonesia (Polri) periode 1968-1971. Pada masa kepemimpinan Hoegeng, kepolisian dituntut berperilaku jujur bersih dan konsisten dalam menjalankan tugas, menegakkan hukum, memperbaiki situasi dan kondisi serta citra jati diri polisi di mata masyarakat. 

Hal ini diceritakan dalam buku Hoegeng Polisi Idaman dan Kenyataan sebuah autobiografi karya Ramadhan KH (1993). Sepanjang kariernya, Hoegeng sering mengalami berbagai godaan suap. 

Ketika bertugas di medan dengan pangkat Kompol, dia membongkar praktik suap-menyuap anggota polisi, jaksa dengan bandar judi. Barang-barang mewah pemberian bandar judi dia buang keluar jendela. Bagi Hoegeng lebih baik hidup melarat dari pada menerima suap atau korupsi. 

Pada 1956, Hoegeng Iman Santoso ditugaskan ke Medan Sumatra Utara. Di Medan pada saat itu kondisinya sangat banyak kasus kejahatan mulai dari penyelundupan, perjudian, dan perampokan. 

Medan bukanlah wilayah yang mudah untuk bekerja karena ujiannya yang sangat besar, terutama bagi polisi jujur dan tidak mudah disuap, seperti Hoegeng.  Namun Medan sangat menarik bagi polisi yang mudah melanggar hukum. 

Tugas berat sudah menantinya. Pada masa itu penyelundupan dan perjudian merajalela di Kota Medan. Para polisi, tentara, dan jaksa di Medan telah disuap oleh bandar judi. Aparat tak berkutik ketika disogok uang, mobil, perabot mewah, dan wanita.

Editor : Nani Suherni

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: