Klinik Aborsi Ilegal di Jakarta Digerebek, Salah Satu Dokternya Lulusan Universitas di Medan

Wildan Catra Mulia ยท Jumat, 14 Februari 2020 - 20:05 WIB
Klinik Aborsi Ilegal di Jakarta Digerebek, Salah Satu Dokternya Lulusan Universitas di Medan
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus menunjukkan barang bukti penggerebekan klinik aborsi ilegal di Polda Metro Jaya, Jumat (14/2/2020). (Foto: iNews.id/Nur Ichsan).

JAKARTA, iNews.id – Klinik aborsi ilegal di kawasan Paseban Raya, Jakarta Pusat, yang telah mengaborsi 903 janin digerebek Polda Metro Jaya. Polisi juga mengamankan tiga terduga pelaku aborsi, yang salah satunya dokter lulusan universitas di Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, Subdit III Ditreskrimsus Polda Metro Jaya mengamankan tiga terduga pelaku aborsi di Kawasan Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Ketiga pelaku berinisial MM alias dr A, RM dan SI.

MM merupakan dokter lulusan sebuah universitas di Medan. MM pernah menjadi PNS di Riau, tapi akhirnya dipecat karena tidak pernah masuk kerja. MM juga pernah bermasalah di Polres Bekasi terkait kasus pengadopsian anak dan divonis 3,5 bulan.

“Yang bersangkutan ini juga pernah terlibat kasus yang sama, aborsi, tahun 2016. Saat itu, yang bersangkutan DPO (daftar pencarian orang,” kata Yusri dalam keterangan pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Yusri menjelaskan, MM kemudian membuka praktik di Kawasan Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Dari klinik aborsi itu, tersangka sudah menangani 1.632 pasien. Namun, yang aborsi sekitar 903 pasien.

“Total selama 21 bulan pengakuan tersangka, hampir Rp5,5 miliar lebih keuntungan yang didapat. Klinik ini tanpa izin,” ujarnya.

Polisi masih mendalami peran tersangka kedua RM. Pelaku diduga mempromosikan klinik aborsi di dunia maya. RM tidak hanya menjadi sales, tapi juga calo bidan untuk menarik pasien yang ingin aborsi.

“Tarif ada satu bulan, dua bulan tiga bulan, sebulan Rp1 juta, dua bulan Rp2 juta, tiga bulan Rp3 juta, dan di atas itu Rp4 juta sampai Rp15 juta. Dia juga promosikan, sosialisasi mengantar dan membantu,” katanya.

RM juga merangkap sebagai bidan. RM residivis yang pernah ditangkap pada 2016. “Kalau teman-teman ingat di daerah Cimandiri, vonis dua tahun saat itu, keluar lagi, sama saja gini lagi kerjanya,” ujarnya.

Sementara tersangka SI berperan sebagai karyawan di bagian pendaftaran. SI juga residivis yang divonis dua tahun tiga bulan dengan kasus sama.

Yusri mengatakan, para tersangka disangkakan pasal berlapis dengan ancaman lima hingga 10 tahun penjara. Para tersangka dijerat dengan tiga undang-undang, yakni UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, dan UU Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.


Editor : Maria Christina