Korban Aniaya Cabut Kuku dengan Tersangka Anggota DPRD Labusel Ngaku Dapat Tekanan

Fachrizal ยท Rabu, 23 September 2020 - 13:56 WIB
Korban Aniaya Cabut Kuku dengan Tersangka Anggota DPRD Labusel Ngaku Dapat Tekanan
Korban penganiayaan oknum anggota DPRD Labusel dari fraksi PDIP menunjukkan foto bekas lebam dan laporan polisi. (Foto: iNews/Faachrizal)

RANTAUPRAPAT, iNews.id - Kasus dugaan penganiayaan dengan tersangka anggota DPRD Labuhanbatu Selatan (Labusel) Imam Firmadi masih terus bergulir. Mengejutkannya, korban penganiayaan Muhammad Jefry Yono mengaku mendapat intervensi oknum polisi di Polsek Torgamba, jajaran Polres Labuhanbatu.

Penasihat hukum korban, M Sa'i Rangkuti mengambarkan tekanan dari oknum anggota kepada kliennya untuk menjatuhkan mental terkait ancaman dugaan kasus pencurian yang dihadapinya.

Dalam video durasi 32 detik, korban menceritakan kepada pengacaranya saat berada di Polsek Torgamba soal ancaman lisan itu berupa pidana hukuman kurungan penjara maksimal, uang Rp300 juta hingga pembebasan bersyarat, jika setuju mencabut laporan dengan nomor  STPLP/787/VII/2020/SPKT RES-LBH Polres Labuhanbatu. Dia mengaku sangat menyayangkan tindakan intervensi yang dapat mencoreng institusi Polri.

"Kalau kira-kira ada intervensi dari polisi ya menganggu proses hukum, menganggu independensi. Artinya ada keberpihakan polisi di sini. Tugas mereka hanya melakukan proses penegakan hukum bukan artinya mengarahkan orang untuk berdamai," kata M Sa'i Rangkuti didampingi tim kuasa hukum lainnya Makmur Rahmad, Rizky Fatimantara Pulungan, Sonang Basri Hasibuan dan Muhammad Ilham, Selasa (22/9/2020).

M Sa'i Rangkuti mengungkapkan sangat mengapresiasi dan mendukung Polres Labuhanbatu dalam menangani kasus penganiayaan tersebut. Menurutnya, polisi sangat profesional dan berhati-hati mengungkap kasus yang menyita perhatian publik tersebut.

Dia juga meminta penyidik menegakan supremasi hukum. Siapapun yang bersalah harus bertanggung jawab. Dengan demikian, membuktikan rasa hormat tanpa mengurangi empati yang tinggi dari masyarakat. Apalagi intervensi hukum kepada korban Muhammad Jefry Yono.

"Polisi gak berhak mengarahkan orang berdamai sehingga menganggu citra polisi itu sendiri," katanya.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Deni Kurniawan yang diminta konfirmasi hanya menjawab singkat

"Terima kasih infonya, akan saya cek," ucapnya.

Sementara Kapolsek Torgamba AKP Firdaus Kemit membantah tudingan intervensi kasus oknum anggota DPRD Labuhanbatu Selatan Imam Firmadi yang dilaporkan Muhammad Jefry Yono.

"Masalah Imam ditangani Polres bukan di Torgamba. Masalah Jefry ditangani Polsek. Cek dulu kebenarannya," katanya.


Editor : Donald Karouw