Masjid di Medan Ini Jadi Simbol Perlawanan Umat Islam terhadap Belanda

Eka Hetriansyah ยท Kamis, 17 Mei 2018 - 21:56 WIB
Masjid di Medan Ini Jadi Simbol Perlawanan Umat Islam terhadap Belanda
Masjid Datuk Badiuzzaman Surbakti Medan. (Foto: iNews/Eka Hetriansyah)

MEDAN, iNews.id – Masjid Datuk Badiuzzaman Surbakti adalah salah satu masjid tertua di Kota Medan, Sumatera Utara. Rumah ibadah yang berada di Jalan PDAM Sunggal Nomor 1 itu dibangun pada 1885 (1306 H).

Arsitektur masjid seluas 19x25 meter itu tergolong sederhana. Gaya khas rumah adat Melayu bisa dilihat pada atapnya yang berbentuk limas. Namun, yang membuat masjid itu makin unik adalah penggunaan putih telur dan pasir sebagai bahan untuk merekatkan dinding dan tiang penyangga.

Di balik keunikannya, masjid itu ternyata juga menyimpan sejarah perjuangan umat Islam melawan Belanda di masa silam. Peristiwa tersebut terkenal dengan nama Perang Sunggal.

“Dulu Sunggal merupakan kerajaan Sebranyaman dengan nama rajanya Datuk Baiduzzaman yang dibuang Belanda ke luar Sumatera. Dulu istananya di samping masjid ini,” ujar generasi keempat Datuk Badiuzzaman Surbakti, Datok Amansyah Surbakti, Kamis (17/5/2018).

Dia mengatakan, Datuk Baiduzzaman yang lahir pada 1834 adalah pejuang muslim yang gagah berani saat melawan Belanda. Raja Sebranyaman itu berperang melawan penjajah selama 23 tahun dari 1872 hingga 1985.

Datuk Baiduzzaman merupakan anak dari Datuk Abdullah Ahmad Sri Indera Pahlawan Surabakti dan Tengku Kemala Inasun Bahorok. Dia menjadi raja pada usia 23 tahun, setelah ayahnya mangkat pada 1857.

Menurut Datok Amansyah Surbakti, kondisi masjid peninggalan Raja Sebranyaman itu sekarang sudah tak sama lagi dengan yang dulu. Kini, dindingnya sudah dilapisi dengan keramik, termasuk mimbar khatib. Selain itu, saat ini juga terdapat teralis besi di jendela.

"Kami berharap bangunan peninggalan bersejarah ini dapat perhatian khusus dari pemerintah, sehingga dapat dirawat dengan baik," kata Datok Amansyah Surbakt


Editor : Muhammad Saiful Hadi