Pemprov Sumut Sebut 46.600 Babi Mati sejak September 2019 akibat Wabah Hog Cholera

Stepanus Purba ยท Senin, 10 Februari 2020 - 16:19 WIB
Pemprov Sumut Sebut 46.600 Babi Mati sejak September 2019 akibat Wabah Hog Cholera
Pemkot Medan saat mengumpulkan ratusan bangkai babi di Danau Siombak, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sumut, beberapa waktu lalu. (Foto: iNews.id/Stepanus Purba)

MEDAN, iNews.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan menyebutkan, sedikitnya 46.600 ekor ternak babi mati akibat wabah Hog Cholera dan African Swine Fever (ASF) sejak September 2019 silam hingga saat ini. Kematian ternak ini tersebar pada sejumlah kabupaten/kota di Sumut.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Kabid Keswan) Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut drh Muhaimin Damanik mengatakan, 46.600 kasus babi mati ini terdapat di Dairi, Humbang Hasundutan, Deliserdang, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpakbharat, Langkat, Tebingtinggi, PematangSiantar, Serdangbedagai dan Medan. Menyangkut kematian ternak babi ini, Pemprov Sumut berencana akan mengusulkan pemberian kompensasi kepada para peternak.

"Tapi sampai saat ini belum ada petunjuk dari pusat," ujar Muhaimin, Senin (10/2/2020).

Menurutnya, pergantian ternak babi masih belum bisa dilakukan lantaran virusnya diduga masih ada di kawasan tersebut. Karenanya, kompensasi yang ditawarkan yakni mengganti dengan ternak lain, seperti sapi atau kerbau.

"Nantinya diharap kompensasi yang diberikan sesuai dengan potensi daerah masing- masing peternak," katanya.

Soal usulan ini, Muhaimin mengakui ada peternak yang menolak. Sebab mereka selama ini tidak terbiasa memlihara sapi atau kambing.

“Mereka maunya tetap babi," ucapnya.

Dinas Ketahanan Pangan Sumut akan terus mengupayakan pembinaan agar peternak mau untuk beternak selain babi. Seperti ternak sapi atau kerbau.


Editor : Donald Karouw