BBTNGL Selamatkan 2 Anak Orangutan dari Perdagangan Satwa Dilindungi di Langkat Sumut

Stepanus Purba ยท Jumat, 10 Januari 2020 - 12:25 WIB
BBTNGL Selamatkan 2 Anak Orangutan dari Perdagangan Satwa Dilindungi di Langkat Sumut
Dua anak orangutan yang diselamatkan BBTNGL dari perdagangan satwa ilegal di Langkat, Sumut. (Foto: iNews.id/Stepanus Purba)

MEDAN, iNews.id - Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) mengungkap perdagangan satwa dilindungi yakni dua anak orangutan melalui media sosial (medsos). Satwa ini dijual terduga pelaku bernama Riswansyah alias Iwan Gondrong (39) warga Dusun Kwala Nibung, Desa Pula Rambung, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Kepala BBTNGL Jefri Susyanto mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat. Selanjutnya petugas BBTNGL menyelidiki dan mengamankan dua anak orangutan berjenis kelamin jantan dan betina dari rumah terduga pelaku pada Kamis (9/1/2020). Sementara pelaku tak ada di lokasi saat penggerebekan tersebut.

"Petugas langsung mengamankan kedua orangutan tersebut," ujar Kepala Balai Besar TNGL Jefri Susyanto, Jumat (10/1/2020).

BACA JUGA: Polisi Bongkar Sindikat Penjualan Satwa Langka di Medan

Jefri menduga, pelaku merupakan jaringan satwa ilegal di Sumut. Namun pengembangan tersebut masuk dalam ranah tugas Balai Penegakan Hukum (Gakkum) untuk mendalami kasus agar semakin jelas titik terangnya.

“Masih diselidiki yang bersangkutan ini merupakan bagian dari sebuah jaringan atau tidak. Namun hasil penyelidikan awal ada kemungkinan ke arah situ," katanya.

Sementara terkait kondisi anak orangutan tersebut, keduanya dalam keadaan sehat dan baik. Kendati demikian, pihaknya akan terus memantau perkembangan kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.

"Untuk rehabilitasi akan menjadi kewenangan rekan kami di Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Karena ini merupakan barang bukti, nanti akan diputuskan BKSDA, apakah akan dititipkan di Sibolangit atau Balai Rehabilitasi Orangutan yang menjadi mitra kami. Yang pasti harus masuk untuk rehabilitasi," tuturnya.


Editor : Donald Karouw