Puluhan Rumah Warga di Medan Denai Terendam Banjir, Warga Ancam Boikot Pilkada

Said Ilham ยท Rabu, 12 Agustus 2020 - 11:05 WIB
Puluhan Rumah Warga di Medan Denai Terendam Banjir, Warga Ancam Boikot Pilkada
Hujan deras di Kota Medan menyebabkan puluhan rumah warga di Kecamatan Medan Denai terendam air, Rabu (12/8/2020). (Foto: iNews/Said Ilham)

MEDAN, iNews.id - Hujan deras yang mengguyur Kota Medan, Rabu (12/8/2020) dini hari, menyebabkan puluhan rumah warga di Kecamatan Medan Denai terendam banjir. Kerap dilanda banjir, warga mengancam memboikot Pilkada Medan 2020 jika Pemerintah Kota (Pemko) Medan tidak menyelesaikan persoalan banjir musiman tersebut.

Salah seorang warga Medan Denai, Aman Sari mengatakan kawasan permukiman mereka selalu dilanda banjir jika hujan deras mengguyur Kota Medan. Banjir musiman ini disebabkan buruknya saluran drainase di kawasan tersebut hingga menyebabkan air meluap dan merendam rumah warga.

"Banjir ini karena saluran drainase tidak berfungsi normal lagi karena sudah tersumbat. Sudah 10 tahun tidak pernah dikorek lagi," kata Aman Sari, Rabu (12/8/2020).

Persoalan drainase ini sudah berulang kali disampaikan kepada Pemko Medan, namun hingga saat ini belum ada tanggapan. Jika persoalan ini tidak segera diselesaikan, warga mengancam tidak akan menggunakan hak pilih di Pilkada Medan 2020.

"Kami gak milih lagi, nggak dipikirkannya kami. Kami kalau tidak dikorek itu saluran drainase, kami tidak akan memilih siapa pun di Pilkada Medan," ucap Aman Sari.

Hal senada juga disampaikan oleh Ali Agasi (27) salah seorang warga yang rumahnya terendam air. Meluapnya saluran drainase di depan rumahnya menyebabkan air merendam rumahnya hingga 30 cm.

"Ini udah mulai surut, tadi malam cukup tinggi," ucapnya.

Dia berharap Pemko Medan untuk segera mengatasi persoalan masalah drainase di kawasan Medan Denai.

"Sebenarnya tinggal dikorek saja. Tapi dari saya kecil sama seusia sekarang belum pernah dikorek lagi," ucapnya.

Dari pantauan iNews.id, puluhan rumah warga di Kecamatan Medan Denai terendam air hingga menutup mata kaki. Akibatnya, warga harus mengevakuasi sejumlah perabotan rumah tangga mereka ke tempat yang lebih tinggi.


Editor : Stepanus Purba