Warga Medan Belawan Kerap Tawuran, Pengamat Sosial: Kehilangan Pemimpin Lokal

Stepanus Purba ยท Rabu, 21 Juli 2021 - 16:04:00 WIB
Warga Medan Belawan Kerap Tawuran, Pengamat Sosial: Kehilangan Pemimpin Lokal
Tangkapan layar saat kekacauan dalam tawuran warga di Medan Belawan, Rabu (21/7/2021) dini hari menjelang subuh. (Foto: iNews/Yudha Bahar)

MEDAN, iNews.id - Ratusan warga di Kelurahan Belawan Bahari, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (21/7/2021) dini hari menjelang subuh terlibat tawuran. Tawuran yang berulang terjadi tersebut dinilai karena masyarakat Belawan kehilangan local leader atau pemimpin di tingkat lokal yang bisa mencegah terjadinya tawuran antarwarga di lokasi tersebut. 

Pengamat sosial dari Universitas Sumatera Utara (USU) Agus Suryadi mengatakan dari sudut pandang ilmu sosial tawuran yang terus menerus terjadi menjadi bukti di level grass root masyarakat kehilangan local leader. Pemimpin di tingkat lokal seharusnya bisa menjadi barometer dan panutan warga maka tawuran bisa diselesaikan di tempat. 

"Namun peristiwa ini juga dipengaruhi faktor psikologis masyarakat terkait perkembangan kondisi sosial ekonomi hingga pola kultur yang tidak akomodir dengan baik," kata Agus saat dihubungi iNews.id, Rabu (21/7/2021). 

Kondisi-kondisi tersebut dinilai membuat warga kerap menyelesaikan persoalan yang ada di tengah mereka dengan pola yang mereka pikirkan seperti tawuran ataupun kekerasan.

"Ini kan (tawuran) sebenarnya hanya karena persoalan sepele. Namun karena tidak ada local leader yang bisa menjembatani persoalan di masyarakat. Sehingga tersinggung mereka selesaikan dengan cara kekerasan," ucapnya. 

Selain itu, faktor psikologis masyarakat baik secara internal maupun eksternal menjadi faktor pendukung lainnya kenapa tawuran tersebut terus berulang. Secara internal, faktor tersebut berupa pola pikir masyarakat dan kultur yang dibawanya. 

"Sementara eksternal bisa dipengaruhi kondisi yang berkembang saat ini hingga masyarakat mengalami stress," ucapnya.

Agus mengimbau penyelesaian tawuran di kawasan Belawan tersebut harus diselesaikan dengan melibat tokoh-tokoh masyarat, agama dan pemuda mulai dari level paling kecil. Langkah tersebut dinilai baik untuk mencegah konflik tersebut pecah kembali. 

"Libatkan tokoh agama seperti nazir masjid, sintua, ataupun tokoh agama dalam menyelesaikan persoalan ini. Libatkan baik mereka yang informal dan formal untuk membicarakan persoalan," ujarnya. 

Agus berharap persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut karena akan berimbas kepada masyarakat. Penjarahan hingga pembakaran yang terjadi adalah dampak dari persoalan yang terjadi di level grass root dibiarkan berlarut-larut. 

"Kalau sudah sampai ke penjarahan, maka aparat harus mengambil tindakan tegas karena sudah masuk ke tindak kriminal," ucapnya. 

Editor : Stepanus Purba