Diusir dari Rumah Dinas, Keluarga Prof Tobing Pendiri FE USU Minta Ganti Rugi Rp6,7 Miliar

Wahyudi Aulia Siregar, Ahmad Ridwan Nasution ยท Kamis, 25 Maret 2021 - 21:01:00 WIB
Diusir dari Rumah Dinas, Keluarga Prof Tobing Pendiri FE USU Minta Ganti Rugi Rp6,7 Miliar
Keluarga Prof Tobing, pendiri FE USU diusir dari rumah dinas. (Foto: MNC Portal/Ahmad Ridwan Nasution)

MEDAN, iNews.id - Keluarga Profesor TMH Tobing, pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) meminta pihak rektor membayar ganti rugi sebesar Rp6,7 miliar sebagai biaya merenovasi rumah yang telah ditinggali sekitar 50 tahun. Permintaan ganti rugi itu itu setelah tiga keluarga Prof Tobing diusir dari rumah dinas.

“Kita meminta pihak USU memberikan semacam dana atau tali asih kepada keturunan Prof Tobing yang merupakan pendiri USU. Sebab, yang tinggal di sini itu keturunannya. Apalagi kan ada anaknya yang lumpuh. Sehingga mereka kan pasti tidak punya rumah. Mereka kan harus mengontrak. Karena itu, kami minta ganti rugi dari USU,” kata penasihat hukum keluarga Prof TMH Tobing, Ranto Sibarani, Rabu (24/3/2021). 

Pengosongan rumah, menurut Ranto seharusnya tidak dilakukan. Sebab hingga saat ini, pihak keturunan dari Prof TMH Tobing masih melakukan gugatan terkait apakah mereka layak menghuni rumah tersebut atau tidak.

"Ini masih proses di pengadilan. Kami masih lakukan banding atas putusan di pengadilan tingkat pertama. Jadi belum punya kekuatan hukum tetap. Masa belum ada putusan tapi sudah dieksekusi, diusir seperti ini," kata Ranto.

Ruben Tobing dan Hisar Tobing tidak dapat berbuat banyak karena petugas yang datang tetap ngotot mengatakan pengosongan tersebut atas surat tugas dari Rektorat USU.

Tindakan manajemen Universitas Sumatera Utara (USU) yang "mengusir" keturunan pendiri Fakultas Ekonomi (FE), almarhum Prof TMHL Tobing, mendapat banyak respons dan keprihatinan dari berbagai pihak. Namun, USU menegaskan eksekusi pengosongan rumah dinas di Jalan Universitas No 8 Kampus USU Padangbulan, Kota Medan, itu sudah sesuai dengan aturan berlaku. 

Kepala Humas Protokoler dan Promosi Amalia Meutia mengatakan, rumah dinas yang menjadi bagian dari aset negara, tidak boleh dimiliki pribadi. Karena itu, meski sangat menghargai jasa-jasa Prof TMHL Tobing, USU tetap harus berpegang pada aturan rektor.

"Rumah itu milik negara. Jadi sampai kapan pun tidak boleh dikuasai untuk kepentingan pribadi. Kami sangat menghargai jasa-jasa Prof TMHL Tobing, namun di satu sisi kami harus berpegang pada aturan rektor," kata Amalia, Rabu (24/3/2021).

Amalia juga memastikan, dalam melakukan pengosongan rumah tersebut, USU menerapkan asas kemanusiaan. Diketahui, rumah itu ditempati Hisar Tobing dan Ruben Tobing, keturunan dari Prof TMH Tobing. Hisar Tobing, penyandang disabilitas, yang duduk kursi terlihat saat eksekusi berlangsung. 

"Tidak ada bahasa diusir. Terkait adanya pihak keluarga yang mengalami disabilitas, tim lapangan juga sudah menyediakan ambulans dan perawat dari Rumah Sakit USU yang standby," katanya.

Editor : Kastolani Marzuki

Halaman : 1 2