Tekuak Marga Suku Batak Menentukan Status Sosial Seseorang

Amelia Ayu Aldira ยท Kamis, 22 September 2022 - 19:00:00 WIB
Tekuak Marga Suku Batak Menentukan Status Sosial Seseorang
Ilustrasi Marga Suku Batak

Batak Karo

Suku ini merupakan salah satu suku terbesar di Sumatera Utara. Nama suku ini dipakai sebagai nama salah satu Kabupaten di Sumatera Utara yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa yang disebut Karo atau Cakap Karo.

Masyarakat Karo memiliki sistem sosial atau adat yang dikenal dengan merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu.  Marga berarti laki-laki dan Beru berarti perempuan.  Merga atau Beru dipakai setelah nama seseorang. 

Merga masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok utama (marga inti/pokok) yang disebut merga silima. Kelima marga tersebut ialah;

Marga Ginting (Ajartambun, Babo, Guru Patih, Jandibata, Manik, Munte, Seragih)
Marga Karo-karo (Barus, Gurusinga, Kaban, Ketaren, Purba, Paroka, Sinukaban, Surbakti, Sinulingga, Torong)

Marga Perangin-angin (Benjereng, Kacinambun, Laksa, Mano, Namohaji, Pinem, Sebayang, Sukatendel, Ulunjandi)
Marga Sembiring (Brahmana, Colia, Depari, Gurukinayan, Keloko, Muham, Pandebayang, Sinupayung. Marga Tarigan (Bondong, Gersang, Jampang, Kerendam, Purba, Sibero, Tambak, Tendang).

Nama keluarga diwarisi dari ayah, dan nama keluarga ayah juga merupakan nama keluarga anak laki-laki. Orang dengan Marga yang sama dianggap saudara kandung dalam arti bahwa mereka memiliki nenek moyang yang sama. 

Ketika laki-laki memiliki nama keluarga yang sama, mereka disebut (b)ersenina. Demikian pula perempuan yang memiliki marga yang sama disebut juga (b)ersenina.

Namun, laki-laki dan perempuan dengan nama yang sama disebut Erturang, maka pernikahan dilarang kecuali marga Sembiring (Sembiring Kembaren).

Editor : Nani Suherni

Bagikan Artikel: