Pakaian Adat Batak Toba , Tenun Ulos (Foto: Dok Kemendikbud)
Reza Rizki Saputra

JAKARTA, iNews.id - Ragam pakaian adat Sumatera Utara menarik untuk kita ketahui. Indonesia memiliki banyak daerah dengan pakaian adatnya.

Provinsi Sumatera Utara merupakan rumah bagi berbagai suku. Terdapat tiga suku asli yang menghuni Sumatra Utara, yaitu suku Batak yang merupakan suku terbesar. Suku Batak terdiri atas beberapa sub suku seperti Batak Toba, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak dan Batak Angkola. 

Terdapat pula suku Nias di bagian pantai selatan Sumatra dan suku Melayu yang tersebar di beberapa daerah. Maka dari itu, budaya yang dimilikinya sangat beragam seperti pada pakaian adat Sumatera Utara.

Pakaian adat Sumatera Utara banyak didominasi oleh pakaian adat suku Batak yang disebut dengan ulos, karena mayoritas penduduk di provinsi dengan ibukota Medan ini berasal dari suku Batak. Ulos hampir digunakan oleh semua sub suku Batak, hanya saja penamaan serta fungsinya berbeda-beda. Sementara suku Nias dan Melayu memiliki ciri khas pakaian adat tersendiri yang juga tak kalah unik. 

Berikut ragam pakaian adat Sumatera Utara;

1. Pakaian Adat Batak Toba

Pakaian Adat Batak Toba Tenun Ulos (Foto: Dok Kemendikbud)

Ragam pakaian adat Sumatera Utara khas Batak Toba terbuat dari kain ulos atau kain tenun tradisional, mulai dari bagian atas hingga ke bawah. Pakaian adat pria bagian atas disebut dengan ampe-ampe dan bagian bawah disebut dengan singkot. Sementara untuk perempuan, bagian atas berupa hoba-hoba dan bagian bawah adalah haen.

Penggunaan busana ini juga dilengkapi dengan aksesoris berupa penutup kepala pada laki-laki yang disebut bulang-bulang dan pengikat kepala atau tali-tali pada perempuan, serta memakai selendang ulos.

Bagi orang-orang Batak Toba, ulos memiliki arti khusus. Jenisnya pun ada banyak, sesuai dengan maknanya masing-masing. Misalnya saja, ulos ragi hotang digunakan untuk pesta sukacita, ulos simbolang dikenakan saat berduka, dan masih banyak jenis lainnya. Selain upacara adat, pakaian adat Batak Toba digunakan untuk acara tertentu seperti pesta pernikahan dan pesta syukuran.

2. Pakaian Adat Batak Karo

Ragam pakaian adat Sumatera Utara khas Batak Karo terlihat serupa dengan Batak Toba. Perbedaan yang paling menonjol adalah penggunaan kain tenun yang disebut uis gara.

Dalam bahasa Karo, uis berarti kain, dan gara berarti merah. Disebut 'kain merah' karena uis gara didominasi dengan warna merah, atau terkadang dipadukan dengan warna lain seperti hitam dan putih, kemudian dihiasi dengan tenunan benang berwarna emas dan perak yang membuatnya terlihat mahal dan elegan.

Dahulu, uis gara digunakan sebagai pakaian sehari-hari para perempuan Karo, namun sekarang hanya dikenakan saat upacara adat dan pesta pernikahan.

3. Pakaian Adat Batak Mandailing

Pakaian adat Batak Mandailing juga hampir mirip dengan Batak Toba yaitu juga menggunakan kain ulos. Perbedaan yang paling terlihat ada pada kain ulos yang dililitkan pada bagian tengah badan, juga pada hiasan kepala pada pria dan wanita.

Hiasan kepala laki-laki Batak Mandailing mempunyai bentuk khas serta berwarna hitam yang disebut ampu. Sementara untuk perempuan hiasan kepala disebut bulang yang diikatkan ke kening.

Bulang tersebut terbuat dari emas, tetapi sekarang sudah banyak yang terbuat dari logam dengan sepuhan emas. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat.

4. Pakaian Adat Batak Simalungun

Ragam pakaian adat Sumatera Utara khas Batak Simalungun juga menggunakan kain ulos untuk pakaian adat mereka. Hanya saja penyebutannya berbeda yaitu kain hiou. Bentuk dari pakaian adat Batak Simalungun hampir menyerupai Batak Toba, namun hiasan kepala pada kaum laki-laki lebih tinggi dan lancip. Selain itu, warnanya didominasi merah dan kuning emas.

5. Pakaian Adat Batak Angkola

Ragam pakaian adat Sumatera Utara khas Batak Angkola hampir mirip dengan busana adat Batak Mandailing. Yang membedakan adalah pakaian perempuan didominasi dengan warna merah serta penggunaan selendang diselempangkan pada badan.

Hiasan kepalanya mirip dengan Batak Mandailing. Untuk laki-laki memakai penutup kepala yang disebut ampu. Ampu memiliki bentuk khas, dan merupakan mahkota yang biasanya digunakan raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu.

Warna hitam pada ampu mengandung fungsi magis, sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Sementara untuk perempuan, memakai hiasan kepala berupa bulang berwarna emas.

6. Pakaian Adat Batak Pakpak

Pakaian adat Sumatera Utara khas Batak Pakpak disebut dengan baju merapi-api. Pakaian adat ini didominasi dengan warna hitam. Berbahan dasar katun, dan dikenakan dengan oles atau tenunan khas Pakpak.

Pada laki-laki Batak Pakpak, baju merapi-api menyerupai pakaian model Melayu dengan leher bulat dan dihiasi dengan manik-manik atau api-api. Sementara untuk bagian bawah, berupa celana hitam yang dibalut dengan sarung yang disebut oles sidosdos, dengan ujung terbuka di depan.

Baju merapi-api pada perempuan juga berwarna hitam dengan model leher segitiga dan dihiasi dengan api-api. Bagian bawah berupa sarung atau oles perdabaitak yang dililit pada pinggang secara melingkar.

Ketika mengenakan pakaian adat Pakpak, laki-laki dan perempuan juga memakai aksesoris tambahan, berupa penutup kepala, kalung dan aksesoris lainnya.

7. Pakaian Adat Nias

Keberadaan sukunya yang terpisah, membuat suku Nias memiliki budaya dan adat istiadat yang berbeda dengan suku Batak. Begitu pula dengan pakaian adatnya yang juga berbeda. 

Ragam pakaian adat Sumatera Utara khas Nias disebut baru oholu untuk pakaian laki-laki, dan baru ladari untuk pakaian perempuan. Dahulu orang-orang Nias membuat pakaian dari kulit pohon atau menenun serat-serat dari kulit pohon atau rumput.

Pakaian laki-laki berupa rompi berwarna coklat atau hitam, dan dihiasi ornamen kuning, merah dan hitam. Sementara pakaian perempuan berupa selembar kain yang melilit pinggang dan tanpa baju.

Saat akses mendapatkan kain semakin mudah, orang-orang Nias pun membuat baju dengan bahan-bahan baru, dengan didominasi oleh warna merah dan kuning. Sebagai pelengkap, digunakan aksesoris seperti anting dan mahkota seperti ikat kepala.

8. Pakaian Adat Suku Melayu

Suku Melayu banyak tersebar di daerah Sumatera Utara dan memiliki pakaian adatnya tersendiri. Pakaian adat suku Melayu untuk perempuan berupa baju kurung atau kebaya panjang dipadukan dengan songket. Baju kurung tersebut terbuat dari brokat atau sutra yang dihiasi dengan detail-detail berwarna emas.

Sementara untuk laki-laki Melayu memakai pakaian adat yang disebut dengan teluk belanga, yang terdiri atas baju berkerah kocak musang, dan dipadukan dengan celana bermotif sama. Kemudian mereka melengkapi atribut pakaian adatnya dengan tengkulok atau penutup kepala dari kain songket. Tengkulok merupakan lambang kebesaran dan kegagahan seorang laki-laki Melayu.

Nah, itu ulasan mengenai ragam pakaian adat Sumatera Utara, lumayan beragam dan unik ya.


Editor : Nani Suherni

BERITA TERKAIT